Sebelum di Pelaminan

gbKartosuro, 9 Desember 2012. Ruang tunggu. Maksudku di ruang tamu aku menunggunya. Dari jendela langit tampak cerah, matahari menghangatkan suasana. Kuhirup dalam-dalam segarnya pagi, pelan-pelan kuhembuskan, mencoba menenangkan diri. Berbeda dari biasanya, perasaanku kacau, sulit terdefinisi, jantungku berdegub lebih kencang. Maklum, di ruangan ini orang tuaku akan mempertemukanku dengan seseorang yang akan menjadi separuh jiwaku. Hari ini, hari pertamaku menemuinya. Menemui seseorang yang belum pernah sekalipun aku melihatnya. Bahkan selembar foto pun belum. Aku hanya diberitahu ciri-cirinya, sifat-sifatnya, tak lebih dari itu. Ya, hanya itu yang aku tahu. Anehnya aku pun ada ‘rasa’ dengannya. Apa ini cinta? Tapi bagaimana mungkin aku mencintai orang yang belum pernah kutemui? Yang pasti Allah punya banyak cara menumbuhkan rasa cinta pada hamba-Nya. Dan untuk mencintai memang tidak selalu mensyaratkan pertemuan. Bukankah kita bisa mencintai Rosulullah padahal sebelumnya kita belum pernah sekalipun bertemu beliau? Bagiku pertemuan hanyalah sarana menguatkan rasa cinta.

Ruang tunggu. Maksudku di ruang tamu aku menunggunya. Arloji di tanganku menunjukan sudah sepuluh menit lebih aku menunggunya. Perasaanku semakin kacau. Berbeda dengan orang tuaku, mereka masih tampak tenang. Mungkin itu tanda kematangan kepribadian, mampu bersikap tenang dalam kondisi apapun. Aku pun mencoba tampak tenang tampil sebaik mungkin, walaupun sebenarnya perasaanku kacau balau. “Mbak Mun, ini tamunya sudah menunggu…”, ayahnya memanggil pelan penuh kesabaran dari ruangan tempat kami menunggunya. Itu panggilan yang kesekian kalinya. Aku tak tahu pasti sebenarnya apa yang menghalanginya melangkah ke luar. Mungkinkah ia gadis pingitan yang pemalu? Ataukah? Ataukah mungkin ‘rasa’ ini tak berbalas? Tenang, tenanglah dunia ini tak sesempit daun talas. Kalau cinta tak berbalas, yakinlah masih ada cinta di tempat lain. Kalau separuh hatimu pergi dan meninggalkan luka, bukankah kamu masih bisa memulai kehidupan baru dengan sepotong hati yang baru? Tenanglah. Nikmatilah setiap proses kehidupan ini. Pikiranku mencoba mendamaikan suasana.

Ruang tunggu. Maksudku di ruang tamu aku menunggunya. Suasana hening. Kali ini sudah lima belasan menit semua orang di ruangan ini menunggunya. Tiba-tiba seorang wanita keluar dari balik tirai yang menutupi pintu masuk ruang bagian dalam rumah ini. Ternyata itu ibunya, tapi hanya seorang diri. “Maaf anaknya malu, belum mau keluar…”, ibunya memberitahu kami. Seisi ruangan tersenyum lebar memecah keheningan.

Ruang tunggu. Maksudku di ruang tamu aku masih setia menunggunya. Kembali kulihat arloji di tanganku hampir memasuki menit kedua puluh aku menunggunya. Ayahnya dan ibunya di ruangan bagian dalam rumah ini, mungkin saja sedang menasehati putrinya supaya mau menemui kami. Di ruangan hanya tinggal kami bertiga ditemani teh hangat pengusir kejenuhan. Tiba-tiba kedua orang tuanya keluar dari balik tirai. Aku terkejut, mulai salah tingkah. Mereka tidak sendiri, mereka bersama putri kesayangannya. Tampak anggun dengan gamisnya…

 oOo

 “Aku” dalam cerita ini adalah seorang Mahasiswa Semester 2 Sekolah Pascasarjana IPB sedangkan gadis itu Mahasiswi Semester 8 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Seperti sabda Nabi, “Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh cinta kecuali pernikahan” [HR. Ibnu Majah]. Mereka  akhirnya memutuskan untuk menikah pada tanggal 7 Maret 2013. Semoga pernikahan mereka diberkahi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s