Mengapa Ar Rahman?

gbBogor, 7 Februari 2013. Mahar. Bukan laki-laki. Sepenuhnya hak seorang wanita menentukan mahar pernikahannya. Mengapa Ar Rahman? Pikirannya masih melalang buana mencari-cari jawabannya. Surat Ar Rahman menjadi syarat hafalan yang harus ia penuhi untuk bisa menikahinya.

Mengapa Ar Rahman yang diminta? Mungkinkah semulia Ummu Sulaim. Bukan dirham yang diminta. Bukan emas. Juga bukan perhiasan. Bukannya materi yang diminta. Melainkan keislaman Abu Thalhah sebagai mahar pernikahannya.

Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata, “Demi Allah, tiada mungkin seorang seperti dirimu wahai Abu Thalhah, akan ditolak lamarannya. Tetapi engkau adalah laki-laki kafir, sedang aku seorang muslimah. Tiada halal bagiku untuk menikah denganmu. Tetapi jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku, dan aku tidak akan meminta kepadamu selain itu.”

Maka Abu Thalhah masuk Islam, dan itulah mahar pernikahannya dengan Ummu Sulaim. Tsabit, salah seorang perawi hadits berkata, “Aku belum pernah mendengar sama sekali seorang wanita yang lebih mulia maharnya daripada Ummu Sulaim, yakni Islam. Setelah Abu Thalhah masuk Islam dan mereka menikah, mereka dikaruniai seorang anak.” [HR An Nasa’i]

Mengapa Ar Rahman yang diminta? Mungkinkah karena sangat sukanya pada surat Ar Rahman. Membuatnya  ingin di hari bahagia pernikahannya orang yang dicintainya membacakan surat Ar Rahman untuknya. Seperti rasa sukanya sahabat nabi pada surat Al Ikhlas.

Nabi SAW pernah mengutus seorang sahahabat dalam sebuah pertempuran. Lalu dia mengimami sholat dan selalu membaca surat Al Ikhlas. Tatkala mereka kembali dari pertempuran mereka adukan hal tersebut kepada Nabi. Beliau bersabda: ‘Tolong tanyailah dia, mengapa dia berbuat sedemikian?‘ Mereka pun menanyainya, dan sahabat tadi menjawab, “Sebab surat itu adalah menggambarkan sifat Arrahman, dan aku sedemikian menyukai membacanya”, Spontan Nabi SAW bersabda: “Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah menyukainya.” [HR.Bukhari]

Mengapa Ar Rahman yang diminta? Bukan. Bukan tugasmu mencari jawabnya. Melainkan menghafal ayat demi ayat. Mentadabbur kata demi kata di sisa waktu yang ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s