Mengapa Menikah?

Gbr3Kampus IPB, 9 Januari 2013. Berat. Memang terasa berat dan sulit. Memutuskan untuk segera menikah. Berbeda dengan perempuan. Saat laki-laki memutuskan menikah berarti dia bersedia menanggung beban berumah tangga. Itu berat. Tidak aneh orang lebih memilih menunda pernikahan. Bahkan ada yang memilih pacaran. Bisa mencintai tanpa harus terikat tanggung jawab. Mungkin itulah yang mendorongnya bertanya “Mas adakah nasehat yang bisa membuatku segera menikah? Kakakku saja sudah 28 tahun lebih belum menikah. Saya mau santai dulu ja. Masih enak hidup sendiri, lebih bebas.

Saya rasa ada beberapa hal yang perlu kita fikirkan baik-baik. Pertama, kita seharusnya bersedih kalau belum menikah. Menikah itu perintah Allah. Sedang ciri orang mukmin itu kalau ada perintah Allah, mereka sangat ingin segera melaksanakannya. Bahkan mereka mencucurkan air mata kesedihan kalau ada perintah Allah kok mereka tidak bisa melaksanakannya. “…sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan (untuk menjalankan perintah Allah). [QS. 9:92]”

Kedua, kita seharusnya iri dengan orang yang sudah menikah. Cucuran keringatnya mencari nafkah. Sesuap makanan untuk anaknya. Sehelai pakaian untuk istrinya. Satu ayat yang diajarkan untuk keluarganya. Rasa kasih sayangnya untuk istri dan anaknya. Itu semua tidak sia-sia. Bernilai pahala di sisi-Nya. Kalau kita tidak menikah, kebaikan kita akan kalah dengan orang yang sudah menikah. “Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi)[HR. Muslim no. 995].

Ketiga, marilah kita berfikir lebih jernih. Sebenarnya menanggung beban masalah akibat pernikahan jauh lebih ringan dibandingkan menanggung beban dosa akibat pacaran atau tidak menikah.

Paling tidak itu yang harus kita fikirkan….

oOo

Rasulullah SAW bersabda. “Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.” Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahiihah (no. 625).

‘Abdullah bin Mas’ud berkata: “Seandainya aku tahu bahwa ajalku tinggal 10 hari lagi, niscaya aku ingin pada malam-malam yang tersisa tersebut seorang isteri tidak berpisah dariku.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (IV/128), ‘Abdurrazzaq (no. 10382, VI/ 170).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s