Menyiapkan Masa Depan

KunciBogor, 3 Januari 2013. Bu, kenapa sih anaknya disekolahkan tinggi-tinggi dengan biaya mahal? Saya menyiapkan masa depan anak saya Mas supaya nantinya bisa hidup enak, bekerja dengan gaji tinggi, pokoknya Mas supaya anak saya nanti bisa hidup mapan di masa depan.

Pak, kenapa sih setiap bulan rela keluarin uang buat bayar asuransi mobil? Begini Mas walaupun harus keluarin uang tiap bulan saya rela sebab kalau nantinya mobil saya kecelakaan atau dicuri saya bisa tenang karena akan diganti oleh asuransi.

Om, kenapa sih rajin investasi dimana-mana? Mumpung masih muda Mas jadi harus banyak-banyak investasi buat hari tua nanti setelah pensiun. Hari tua tinggal santai, jalan-jalan, menikmati hidup dari hasil investasi waktu muda jadi nanti walaupun kita sudah tua bisa senang-senang tanpa harus menyusahkan anak-anak.

Saya rasa itu memang logis. Benar. Tidak ada yang salah. Menyiapkan masa depan lebih baik. Walaupun sebenarnya yang kita siapkan tersebut belum tentu terjadi di masa depan. Anak yang disekolahkan tinggi-tinggi dan investasi untuk hari tua, padahal belum tentu hari tua menikmati, bisa jadi kita mati muda. Bayar asuransi mobil, padahal belum tentu mobilnya kecelakaan atau hilang. Jadi kita ini sering bersungguh-sungguh menyiapkan masa depan yang sebenarnya di masa depan belum tentu itu terjadi.

Itu tidak salah. Namun menjadi salah kalau kita malah lupa menyiapkan diri untuk menghadapi sesuatu yang pasti terjadi di masa depan. Lupa menyiapkan bekal menghadapi kematian, padahal kematian pasti terjadi di masa depan. Orang cerdas lebih memilih bersungguh-sungguh menyiapkan diri untuk sesuatu yang pasti terjadi di masa depan daripada mempersiapkan diri untuk sesuatu yang belum tentu terjadi di masa depan. Orang cerdas lebih suka bekerja keras mati-matian untuk menyiapkan kehidupannya di akhirat. Berharap bisa hidup mapan di akhirat. Berbahagia di surga nanti.

Saat itu datang laki-laki Anshar dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s