Buat Apa Berbuat Baik?

MoonKota Hujan, 29 Desember 2012. Mungkin diam saja lebih baik. Buat apa kita capek-capek berbuat baik? Kadang dengan berbuat baik kita justru terjerumus dalam masalah. Pejabat yang jujur ternyata malah dengan kejujurannya dia disingkirkan dari jabatannya. Seorang siswa yang melaporkan temennya yang sedang menyontek saat ujian, dia dibenci teman-temannya. Saat mencoba menolong orang yang tabrakan di jalan, kita malah terlibat urusan panjang dengan polisi maupun jaksa. Saat melerai perkelahian kita malah kena pukul. Saat menegur orang berbuat salah kita malah dikatakan sok suci dan kena caci maki. Milyader yang karena kebaikannya membuka lapangan pekerjaan untuk pengangguran malah dicaci maki karyawannya karena sekali saja telat membayar gaji. Tapi milyader egois yang menyimpan saja uangnya di bank malah bisa hidup tenang. Apakah memang diam saja lebih baik?

Saya hanya berfikir satu hal, kalau saja kehidupan akhirat itu tidak ada kita tidak perlu berbuat baik. Kita bisa hidup sebebas-bebasnya dan sesuka-sukanya kita. Tidak perlu mengambil resiko berbuat baik. Hidup bebas. Mencari uang tidak perlu halal haram. Makan dan minum apapun bisa. Bersenang-senang. Ke tempat-tempat hiburan. Kalau terpaksanya kita terjerumus dalam masalah besar sulit terselesaikan, solusinya bunuh diri. Dengan bunuh diri semua masalah terselesaikan kalau kehidupan akhirat itu tidak ada.

Tidak ada pilihan lagi. Sang pencipta telah memutuskan. Setelah kehidupan sementara di dunia ini akan ada lagi kehidupan akhirat yang abadi. Setiap orang akan bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan di dunia. Orang yang berbuat baik di dunia akan di balas dengan surga yang penuh kesenangan. Orang yang keburukannya lebih banyak disiksa di neraka dengan siksaan yang pedih. Itulah sebabnya kita berbuat baik di dunia ini dan bersabar dengan segala resiko kebaikan yang kita lakukan. Saya ingat sebuah hadits diriwayatkan imam muslim, seusai perang Rosulullah membagikan hasil rampasan perang kepada seorang lelaki. Lelaki itu menjawab “Ya Rosululloh sesungghnya saya ikut berperang bukan untuk mendapatkan rampasan, saya ikut berperang supaya ada anak panah yang menghujam di tubuhku kemudian aku masuk surga”.

Keyakinan akan negeri akhirat membuat kita gemar berbuat kebaikan. Membuat kaki lebih lama berdiri sholat dalam dinginnya malam. Membuat hati ikhlas berinfaq meskipun dalam keadaan sempit. Membuat kita lebih mudah memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita. Membuat kita lebih sabar menahan haus dan lapar saat puasa di panas terik. Membuat kita tetap istiqomah dalam kebaikan. Membuat kita bersabar dalam segala ujian kehidupan ini.

 “…dan mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat.” [QS. Al Baqoroh:4]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s