Demi Masa

Malu. Belum sebaik mereka. Saya rasa itulah ungkapan perasaan kita saat membaca halaman demi halaman buku ini. Mereka memiliki predikat ‘pewaris para nabi’. Mereka benar-benar potret manusia luar biasa dalam mengelola hidupnya. Terutama memenej waktu. Setiap detiknya berbuah selaksa manfaat. Setiap relung-relung hidupnya senantiasa memancarkan kebaikan. Dalam benak mereka, seluruh bentuk kebaikan berpangkal dari waktu. Siapa menyia-nyiakannya, maka ia tak akan pernah menuai kebaikan.

Dalam buku ini, Syaikh Abdul Fattah mencoba mengetengahkan pernik-pernik kehidupan para ulama, terutama dari sisi manajemen waktu mereka yang begitu mengagumkan. Mereka benar-benar mengoptimalkan waktu mereka untuk ilmu. Saat makan, berjalan dan mandi pun mereka masih sempat mendalami ilmu. Bahkan saat ajal menjemput, ada diantara mereka yang masih membahas berbagai masalah agama.

Salah seorang sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud RA mengatakan:

“Aku belum pernah menyesali sesuatu seperti halnya aku menyesali tenggelamnya matahari, di mana usiaku berkurang, namun amal perbuatanku tidak juga bertambah.” [halaman 54]

Umar bin Abdul Azis berkata:

“Sungguh, siang dan malam selalu bekerja untuk Anda, maka hendaknya Anda bekerja saat keduanya ada.”, [halaman 54]

Ubaid bin Ya’isy seorang ahli hadits yang wafat 229 H. Beliau adalah syaikhnya Imam Bukhori dan Imam Muslim. Beliau menuturkan:

“Selama 30 tahun aku tidak makan malam dengan tanganku sendiri. Saudara perempuankulah yang menyuapiku, sementara aku terus menulis hadits. [halaman 63]

Abu Wafa’ Ibnu Aqil seorang ulama yang wafat 513 H. Penulis 800 jilid kitab. Kitab terbesar di dunia yang disusun satu orang saja. Kata beliau:

“Sebisa mungkin, saya berusaha meringkas waktu makan. Sehingga saya lebih memilih kue yang sengaja saya basahi dengan air, ketimbang menyantap roti kering. Karena ada selisih waktu yang membedakan keduanya saat dikunyah. Yakni agar waktu belajarku lebih optimal, dan agar saya dapat mengejar pelajaran lain yang belum saya mengerti. Karena beban kita banyak sementara waktu selalu bergerak cepat.” [halaman 99]

Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Terutama buat orang-orang yang sering menyia-nyiakan waktu sepertiku he🙂

oOo

Judul Asli: Qimatuz Zaman ‘indal ‘Ulama’ | Penulis: Syaikh Abdul Fattah | Penerbit: Maktab Al Mathbu’at Al Islamiyah | Judul Terjemahan: Manajemen Waktu Para Ulama | Penerjemah: Abu Umar Basyir dkk | Penerbit: Zam-zam Mata Air Ilmu | Tebal Buku: 212 halaman

Medan, 25 Agustus 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s