Tuhan, Kenapa Aku Miskin?

Di usianya yang keempat puluh, Roy mendapati hidupnya demikian lesu dan hampa. Bekerja keras sudah ditekuninya sejak muda. Tak hanya itu mengabdi kepada Tuhan pemberi rizki pun telah dilakukan sebaik mungkin. Siapa tau pengabdiannya mampu membuka pintu rizki-Nya. Namun tetap saja kemiskinan melekat menjadi pakaian sehari-sehari.

“Aku sudah lelah dengan kehidupan ini. Tuhan tidak adil. Kerja keras merubah nasib tak ada gunanya, tetap saja miskin”, gerutu Roy sambil melepas lelah di bawah rindangnya Ficus benjamina.

“Aku pun dulu juga berfikiran sepertimu Roy. Tapi sekarang aku lebih bisa menikmati semua ini.” , sahut salah seorang pekerja lainnya yang juga beristirahat melepas lelah.

Roy mengernyitkan dahi dan bertanya, “Maksudmu?”

“Ya, dulu aku sepertimu Roy. Sering memprotes kemahaadilan Tuhan. Tapi sekarang aku sadar Roy, mungkin kemiskinan adalah yang terbaik buatku. Aku berfikir kalau saja Tuhan memberi rizki lebih dari ini mungkin saja aku akan berbuat dosa dengannya dan berlaku sombong. Sekarang yang aku inginkan hanyalah bisa selalu berbuat baik dalam sisa-sisa umurku. Roy, aku berharap kelak bisa masuk surga. Semoga keindahan surga mengobati rasa lelahku sebagai orang miskin.”

Roy tertegun. Hari ini ia mendapatkan pelajaran berharga tentang kehidupan.

Nb: cerita ini fiksi, terinspirasi dari kejadian sehari-hari yang sering saya temui dimana orang memprotes pembagian rizki Tuhan.

oOo

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” [QS. Asy Syuraa: 27]

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Seandainya Allah memberi hamba tersebut rizki lebih dari yang mereka butuh, tentu mereka akan melampaui batas, berlaku kurang ajar satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong. Akan tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.

Medan, 24 Agustus 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s