Pertarungan Jiwa

Di usianya yang masih muda, dia sadari bahwa dirinya mungkin telah salah jalan. Hati nuraninya terus bergejolak di  sela-sela kesibukannya sebagai orang yang dipercaya di perusahaannya.

“Pergilah! Tak seharusnya kamu bekerja di tempat ini. Kamu orang baik. Tak pantas di sini”. Berulang kali kalimat itu terdengar lirih dalam hening. Entah darimana sumbernya. Mungkinkah itu teriakan hati nurani yang selama ini terus terabaikan oleh gemerlap manis dunia.

“Tidak. Pekerjaanmu tidak salah. Jangan terlalu idealis anak muda. Bersikaplah realistis. Inilah dunia kerja sesungguhnya. Kamu tidak akan menemukan pekerjaan yang benar-benar bersih”. Suara lirih dari sisi lain terdengar lebih jelas dan keras. Sia-sia anak jari menyumbat rapat telinga. Suara itu makin keras. Bukan dari luar. Tapi dari dalam diri. “Anak muda, pertimbangkanlah dengan matang. Di sini semuanya kamu dapatkan. Uang, kendaraan, rumah mewah. Apa lagi yang kamu cari? Kebaikan? Kebaikan dapat kamu peroleh dengan memperbaiki semua ini. Jangan seperti pengecut. Lari dari medan peperangan”. Suara itu semakin meyakinkan.

Hening. Suara-suara itu hilang. Tapi tidak mungkin. Belum ada pemenangnya. Tiba-tiba, “Anak muda mungkin inilah nasehat terakhirku. Janganlah kamu terperdaya bujuk rayu setan. Setan menjadikan keburukan tampak indah di matamu. Anak muda, ingatlah bujuk rayu setan telah mengeluarkan bapakmu Adam dari surga. Tidak cukupkah itu sebagai pelajaran bagimu? Pesanku mengalirlah mengikuti aturan Tuhanmu”.

……………………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s