Memilih Jodoh Ala Amien Rais

Buku itu “Menapak Jejak Amien Rais” saat membahas “Jodoh”. Membuat saya senyum-senyum sendiri saat sekilas membacanya di Gramedia, smoga ja pengunjung lain tidak menganggapku aneh he🙂

Pertama, anekdot Amien Rais untuk anaknya
Saat itu ada seorang pemuda yg sedang merindukan belahan jiwa. Datanglah pemuda itu ke Ki Bagus Hadikusuma, ketua PP Muhammadiyyah saat itu. Pemuda itu mengutarakan maksud kedatangannya untuk meminta tolong supaya dicarikan jodoh. Ki Bagus menyambut baik niat anak muda itu dan kemudian bertanya tentang kriteria wanita idamannya. Anak muda itu pun akhirnya menjelaskan kriteria wanita idamannya:

1. Wanita sholihah
2. Kalau bisa yang cantik
3. Pinter, lulusan perguruan tinggi
4. Kalau bisa mapan secara ekonomi

Dan yang yg cukup mengngejutkan adalah

5. Kalau bisa yg mau dan ikhlas untuk dimadu

Setelah anak muda itu menjelaskan panjang lebar wanita idamannya, kemudian Ki Bagus Hadikusuma mengatakan “Baiklah anak muda, nanti kalau sudah menemukan wanita dengan kriteria yang seperti kamu utarakan tadi saya akan menghubungimu. Sekaligus memberitahumu bahwa wanita itu akan saya persunting sendiri”

Pesan bagi anak muda janganlah terlalu sombong, menganggap diri sebagai orang yg sempurna. Dan menginginkan pendamping hidup yang sempurna. Di dunia ini tdk ada org yg sempurna, selalu ada sisi kelemahan dan kelebihan dari seseorang.

Kedua, nasehat istri Amien Rais untuk anaknya
Cari jodoh jangan terlalu njlimet. Terlalu milih-milih. Mencari yang sempurna. Jangan seperti orang beli ubi di pasar tradisional. Pembeli yang tidak mengerti terlalu lama memilih. Tumpukan ubi yang paling atas mereka turunkan. Dicari siapa tau ubi yang di tengah lebih baik. Ternyata ubi yang di tengah tumpukan pun juga belum sesuai yang diinginkan. Ubi yang di tengah pun diturunkan juga. Siapa tau ubi yang paling bawah adalah ubi yang paling baik. Dan ternyata ubi yang paling bawah pun bukan juga yang terbaik, sudah lecet tertumpuk ubi-ubi yang diatasnya. Akhirnya pembeli itu sadar ubi yang paling atas tadi adalah ubi yang paling baik. Tapi sayang dia terlambat. Ubi yang paling atas telah masuk keranjang pembeli yang lain.

Padahal kalau kita tahu di pasar tradisional biasanya ubi yang paling bagus di letakan pada tumpukan paling atas untuk menarik pembeli he🙂

Medan, 13 juli 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s