Mau Menikah Tapi

Dia datang. Sekedar ingin bercerita. Berbincang. Ngobrol. Tentang niat baiknya. Tentang kegundahannya. Tentang keraguannya. Siapa tau ada nasehat yang bisa mengngikis keraguannya. Menguatkan niatnya. Menjadi haknya mendapatkan nasehat. Berilah nasehat saat ia meminta nasehat, demikian pesan nabi.

“Mas saya berencana married, tapi penghasilan saya masih kecil. Saya hanya ngajar di bimbel. Gimana menurut mas?”

“Baguslah saya dukung he…buang keraguan, kuatkan niat, dan mengertilah penghasilan kecil itu bukan halangan untuk menikah”

oOo

Pertama, muncul keraguan itu wajar. Menikah itu perintah Allah. Sudah menjadi hukum alam kalau kita mau menjalankan perintah Allah maka setan datang membisikan keraguan, mendatangkan bayangan-bayangan kesulitan supaya kita tidak jadi berbuat baik. Seperti saat kita mau menginfaqkan harta, “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. 2: 168]

Kedua, menikah tidak mensyaratkan memiliki penghasilan yang besar. Kalau itu menjadi syarat tentu saja pemulung, tukang becak, buruh dll diharamkan menikah karena mereka berpenghasilan kecil.

Ketiga, menunda menikah karena alasan penghasilan kecil atau karena miskin itu alasan klasik. Allah telah memberi solusi sejak 14 abad lalu. Bagi mereka yang ingin menjaga dirinya dengan menikah sedang dia miskin maka menjadi tanggung jawab Allah untuk menjadikannya kaya. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS.24:32]. Rasulullah SAW bersabda tentang tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah. Di antaranya, “… seorang yang menikah karena ingin menjaga kesuciannya.” (HR. An Nasai no. 3218, At Tirmidzi no. 1655. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Keempat, menikahlah jangan menunggu benar-benar siap. Karena tidak ada orang yang benar-benar siap. Dan orang yang berani melangkah meskipun dia belum benar-benar siap biasanya lebih dekat dengan Allah. Misalnya pemuda sederhana/miskin yang tulus mau menikah untuk menjaga diri. Biasanya dia sadar dirinya lemah dan merasa sangat butuh pertolongan Allah untuk menapaki rumah tangganya. Dia akan terus mendekat kepada Allah. Berdoa kepada-Nya. Mengharap pertolongan-Nya. Beda dengan pemuda yang penghasilannya besar sekaligus anak orang kaya. Kemudian dia menikah, biasanya dia merasa cukup untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, lupa berharap pada Allah. Merasa tidak butuh pertolongan Allah untuk menapaki rumah tangganya.

Medan, 13 Mei 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s