Hati-hati Dua Kondisi Ini

Kita perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan kalau kita sedang berada dalam salah satu dari dua kondisi ini, yaitu:

Pertama, saat rasa cinta memuncak. Pada saat cinta yang memuncak sebaiknya kita tidak melakukan pengambilan keputusan-keputusan besar. Tunggulah sampai kita benar-benar bisa mengendalikan rasa cinta dan mampu berfikir logis. Seringkali cinta membuat kita sulit berfikir rasional. Dan keputusan-keputusan yang kita ambil bias. Maka seorang hakim tidak disarankan mengadili seseorang yang bersalah kalau yang bersalah itu anak atau kerabatnya sendiri. Rasa cinta seorang hakim kepada anaknya atau kerabatnya dikhawatirkan membuat hakim tidak bisa memutuskan perkara secara adil.

Cinta terkadang membutakan. Saat orang jatuh cinta maka orang yang dicintainya tampak sempurna. Semua tingkah laku, tutur kata, wajah, bahkan namanya saja akan terlihat “wah” dalam benak kita. Apapun itu yang penting dengan si dia maka semuanya akan terasa begitu indah. Kalau orang tua menasehati bahwa orang yang kita cintai kurang baik. Kita pun tanpa berfikir panjang segera menyangkal nasehat orang tua. Tanpa mau tau untuk mencari informasi yang sebenarnya. Padahal ada kemungkinan nasehat orang tua benar. Tapi rasa cinta telah membutakan sehingga kita tidak melihat kemungkinan itu. Dalam perasaan cinta yang meluap-luap itu pun kita mengambil keputusan besar untuk segera menikahinya. Akhirnya dikemudian hari menyesal, dan sadar ternyata nasehat orang tua itu benar.

Kasus lain misalnya, seorang ibu yang sangat mencintai anak semata wayangnya. Dia mendapat kabar bahwa anak yang dikenalnya selama ini baik melakukan kenakalan. Langsung saja ibu itu membuat keputusan bahwa anaknya tidak mungkin nakal dan segera membela anaknya, tanpa mencari informasi tentang kebenaran berita tersebut. Akhirnya dikemudian hari si Ibu mengetahui bahwa anaknya memang nakal, padahal sebelumnya dia melakukan pembelaan mati-matian.

Kedua, saat amarah meluap. Pada saat sedang marah sebaiknya kita tidak melakukan pengambilan keputusan-keputusan besar. Tunggulan sampai amarah kita reda. Ada sebuah kejadian di negeri tirai bambu. Saat musim salju seorang ibu menasehatkan kepada anaknya yang baru berusia 7 tahun, “Nak jaga rumah ya ibu mau keluar sebentar, jangan keluar rumah sebelum ibu pulang”. Singkat cerita sampai di rumah Si Ibu kesal dan marah-marah melihat anaknya sudah tidak ada di rumah dan pintu rumah tidak dikunci. Dalam keadaan marah si ibu mengunci pintu sebagai hukuman bagi anaknya. Setelah cukup lama dibukalah pintu rumahnya, dia dapati anaknya di depan pintu mati kedinginan menggenggam roti kecil yang bertuliskan “Selamat Ulang Tahun Ibu”. Ternyata anaknya keluar rumah untuk membelikan hadiah ulang tahun ibunya. Disitulah si Ibu menangis dan menyesali keputusannya.

Semoga bermanfaat🙂