Gak Ada Ujian Teori

Sebuah autokritik. Emm…ada ujian teori gak ya? Itulah pertanyaanku, saat melihat materi ujian praktek yang cukup berat. Saya membayangkan kalau saja ujian kehidupan ini sistemnya seperti ujian anak sekolah. Nilai akhir diperoleh dari penilaian ujian teori dan ujian praktek. Itukan enak, kalau nilai prakteknya jelek bisa terbantu nilai teori. Pasti nilai ujian kehidupanku baik karena cukup banyak teori yang sudah saya pelajari baik lewat pengajian-pengajian maupun baca buku-buku he🙂

Ujian teori itu mudah. Kalau ada pertanyaan, amalan apa yang paling utama saat sepertiga malam terakhir? Jawabnya ya sholat lail. Apa yang dilakukan saat orang lain berbuat jahat kepada kita? Membalas kejahatannya dengan kebaikan. Apa yang dilakukan saat menghadapi masalah yang sulit? Ya tetap bersabar dan berupaya sebaik mungkin. Apa yang dilakukan saat mendapat nikmat? Mengucap “Alhamdulillah” dan memanfaatkan nikmat itu di jalan-Nya. Apa hukumnya berkeluh kesah? Berkeluh kesah itu dilarang dan hanya boleh berkeluh kesah kepada-Nya. Apa hukumnya membicarakan kejelekan orang lain? Dilarang dan berdosa. Bagaimana etika tidur? Berwudhu, membaca dzikir, berdo’a, dan miring ke kanan saat tidur. Berapa banyak idealnya seorang muslim membaca Al-Qur’an? Idealnya sih satu hari 1 Juz. Apa yang sebaiknya dilakukan saat mendengar adzan? Menjawabnya dan segera menunaikan sholat di awal waktu. Apa manfaat sholat sunnah? Menyempurnakan kekurangan dalam sholat wajib. Apa yang dilakukan kalau melihat lawan jenis yang menarik hatimu? Ya segera menjaga pandangan. Apa yang sebaiknya disedekahkan? Barang-barang yang kondisinya baik dan masih dicintai. Apa yang harus dilakukan supaya bisa masuk surga? Berupaya semaksimal mungkin menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Memang mudah, kalau saja hidup ini ujian teori.

Sayang hidup ini tidak ada ujian teori, adanya ujian praktek/amal. Jadi betapapun dalam dan luasnya ilmu atau teori yang dikuasai tidak akan bermanfaat banyak kalau tidak bisa praktek/mengamalkannya. Surga itu hanya untuk orang yang telah beriman dan beramal/berbuat kebaikan. “Dan orang-orang yang beriman serta beramal shaleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.[QS. 2: 82]”. Beramal atau praktek tak semudah teori. Ngomong lebih gampang daripada berbuat. Itu sudah hukum alam, gak perlu diprotes. Dijalani saja. Karena praktek/beramal itu sulit dan hanya sedikit orang yang bisa melakukan, maka balasannya besar bagi yang bisa melakukannya yaitu surga. Hukumnya, yang bisa melakukan sesuatu yang orang kebanyakan tidak bisa melakukan maka akan dibayar mahal. Tetaplah berbuat baik meskipun sulit.

Kantor Sei Deli, 22 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s