Cara Memiliki Anak yang Sholeh?

Setelah baca blog dan status jejaring sosial temen-temen yang sudah married ternyata banyak yang sedang merindukan buah hatinya lahir dan tumbuh jadi anak yang sholeh. Saya rasa anak sholeh memang menjadi dambaan setiap orang tua. Jadi kepikiran, bagaimana ya caranya memiliki anak-anak yang sholeh? Kalau kita memperhatikan realita sosial disekitar kita dan kembali kepada ajaran agama, kita akan berkesimpulan yang sama bahwa orang tua yang sholeh melahirkan anak-anak yang sholeh namun setiap anak sholeh tidak harus terlahir dari orang tua yang sholeh. Jadi upaya terbesar untuk memiliki anak yang sholeh terlebih dahulu jadilah orang tua yang sholeh. Hal ini berdasarkan:

Pertama, dalam Al Qura’an disebutkan kesholehan orang tua berpengaruh pada anak cucunya. Kisah Nabi Khidhir yang menegakkan tembok rumah yang mau roboh. “Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” [QS. Al Kahfi: 82]. Dalam menafsirkan firman Allah, “dan kedua orang tuanya adalah orang shalih” Ibnu Katsir berkata: “Ayat diatas menjadi dalil bahwa keshalihan seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat”.

Kedua, setiap anak terlahir suci dan yang paling berperan menentukan sholeh tidaknya anak adalah orang tua. Rosulullah SAW bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanyalah yang menjadikan dia seorang Yahudi atau Nasrani atau Majusi”. [Al-Imam Muslim, Kitabul Qadar no. 2658]

Ketiga, do’a orang tua yang sholeh untuk anak-anaknya lebih mudah dikabulkan oleh Allah. Dalam riwayat Umar bin Khaththab minta kepada orang sholeh yaitu Abbas supaya berdo’a karena doanya orang sholeh diijabah. Dari Anas bin Malik RA, bahwa Umar bin Khaththab RA apabila terjadi musim paceklik, ia meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muthalib RA, lalu berkata, “Ya Allah, kami dahulu bertawassul kepada-Mu melalui Nabi kami, lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami, sekarang kami memohon kepada-Mu melalui paman Nabi kami, maka berilah kami hujan”. [HR. Al Bukhari 2 : 398]

Keempat, ibu yang baik sangat mempengaruhi kepribadian anak. Dalam kitab Fiqih Sunnah diceritakan seseorang datang kepada Umar Ibnul Khoththob dan bertanya “Wahai Umar apakah hak seorang anak kepada Ayahnya?”. Umar menjawab, “Hendaklah ia mengajari anaknya Al Quran dan mencarikan ibu yang baik”. Jadi kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh pendidikan Al Quran dan kepribadian ibunya.

Kelima, sejarah mencatat orang tua yang sholeh dikaruniai anak-anak yang sholeh. Di masa kholifah Umar Bin Khotthob ada seorang gadis anak penjual susu yang sangat sholeh. Ibunya memerintahkan, “Nak, campurlah susu itu dengan air!”. “Sungguh, Amirul Mukminin melarang perbuatan itu, Ibu”, jawab gadis itu. “Tetapi Umar tidak melihat perbuatan kita”. Sang gadis pun menjawab, ”Seandainya Umar tidak melihat kita, maka Tuhan yang menciptakan Umar melihat kita”. Singkat cerita gadis penjual susu itu menikah dengan putra Kholifah dan melahirkan seorang anak yang sangat sholeh yaitu Umar Bin Abdul Azis dikenal sebagai khulafaurrosyidin kelima yang memimpin kaum muslimin dengan sangat adil. Atau mungkin kita telah membaca buku “10 Bersaudara Bintang Al Qur’an”. Dalam buku itu kita mengenal Ibu Wirianingsih dan Pak Tamim adalah pasangan suami istri yang dikenal kesholehan atau kebaikannya sejak muda. Dari merekalah terlahir 10 anak penghafal Al Qur’an.

Keenam, orang tua yang sholeh memberikan teladan yang baik bagi anak-anaknya. Seorang anak perempuan yang melihat ibunya berhijab dari laki-laki yang bukan mahram, menutup aurat, berhias dengan akhlak malu, ketenangan, dan menjaga kesucian diri tidak akan sama dengan seorang anak perempuan yang selalu melihat ibunya bersolek di depan para lelaki bukan mahram, bersalaman, berikhtilat, duduk bersama mereka, tertawa, bahkan berdansa dengan lelaki bukan mahram. Seorang anak yang melihat ayahnya rajin berpuasa sunnah, membaca alqu’an dan sholat jama’ah di masjid tidak akan sama dengan seorang anak yang melihat kebiasaan ayahnya nongkrong di perempatan jalan, kafe, dan diskotik. Seorang anak yang melihat ayahnya bangun di malam hari, mendirikan shalat lail, menangis karena takut kepada Allah, akan berfikir, “Mengapa ayah menangis, mengapa ayah shalat, untuk apa ayah bangun meninggalkan ranjangnya yang empuk lalu berwudhu dengan dinginnya air di tengah malam seperti ini? Untuk apakah ayah sedikit tidur dan berdoa dengan penuh pengharapan lagi cemas?” Semuanya itu membekas dibenak sang anak, selalu hadir dalam pikirannya dan tumbuh keinginan anak untuk meneladi orang tuanya. Anak lebih mudah meneladani apa yang dilihatnya. Keteladanan adalah guru yang terbaik. Wallahualam.

Medan, 13 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s