“Siti Nurbaya” Di Awal 2012

Saya kaget. Sebenarnya apa yang ingin dibicarakannya denganku? Dia ingin mencurahkan permasalahannya. Siapa tahu masih terdapat secercah harapan. Tentang cintanya yang tidak direstui orangtuanya. Pilihannya tidak disukai orangtuanya. Padahal pilihannya tidaklah salah menurut agama. Orangtuanya tetap menginginkannya menikahi pemuda lain yang katanya lebih mapan. Namun rasa cintanya sudah terlalu dalam. Sulit digantikan dengan yang lain. Apa yang harus dilakukan? Sebenarnya saya pun juga tak tahu harus menasehatkan apa? Mengikuti keinginan orangtuanya atau memperjuangkan rasa cintanya. “Berupayalah dengan penuh kesabaran semoga Allah melunakkan hati orangtuamu”, hanya itulah yang bisa kunasehatkan. Semoga kisah cintanya tidak berakhir tragis seperti cintanya Siti Nurbaya dengan Samsul Bahri dalam novel era 1920-an.

Kalaulah suatu saat nanti saya diberi kesempatan menjadi orang tua, saya ingin menjadi orang tua yang bijak. Melihat putra-putriku duduk bahagia di pelaminan bersanding dengan orang yang dicintainya. “Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh cinta kecuali pernikahan” [HR. Ibnu Majah]. Itulah islam. Agama yang sangat manusiawi. Nilai-nilainya selalu ramah dan apresiatif terhadap semua gejolak jiwa manusia. Islam tidak pernah menyulitkan orang yang menuju pelaminan. Bahkan berbekal mahar cicin besi pun sudah cukup untuk dinikahkan wali dan dipersaksikan. Kalau mereka masih miskin, Allah menjanjikan kekayaan bagi mereka yang menikah. “Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya” [Qs. An Nuur: 32]. Cinta merupakan perasaan kemanusiaan yang paling luhur, mengertilah kita mengapa ia mendapat ruang sangat luas dalam tata nilai Islam.

Saat Khalifah Al Mahdi singgah beristirahat dalam perjalanan haji ke Makkah. Tiba-tiba seorang pemuda berteriak, “Aku sedang jatuh cinta”. Maka Al Mahdi pun memanggilnya, “Apa masalahmu?”. “Aku mecintai putri pamanku dan ingin menikahinya. Tapi ia menolak karena ibuku bukan Arab. Sebab itu aib dalam tradisi kami”. Al Mahdi pun memanggil pamannya dan berkata padanya, “Kamu lihat putra-putri Bani Abbasiyah? Ibu-ibu mereka juga banyak yang bukan Arab. Lantas apa salah mereka? Sekarang nikahkanlah lelaki ini dengan putrimu dan terimalah 20 ribu dirham ini: 10 ribu untuk aib dan 10 ribu untuk mahar.”

Mengertilah, tidak ada yang lebih baik bagi orang yang saling mencintai kecuali pernikahan.

Medan, 10 Februari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s