Pelabuhan Jiwa

Haruskah seperti kata Ebiet G Ade. Bertanya pada rumput yang bergoyang. Ataukah tidak harus menjawab. Biarkan menjadi misteri. Seperti misterinya bagiku kenapa Ibnu Taymiyah, Imam Nawawi, dan Sayyid Quthb masih sendiri dalam kematiannya? Itulah yang terpikirkan, saat Tyas Tatanka bertanya:

“Kenapa tak pernah kau tambatkan
Perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu.
Pelabuhan tenang yang mau menerima
Kehadiran kapalmu!
Kalau dulu memang pernah ada.
satu pelabuhan kecil, yang kemudian.
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?
Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu”

Tyas, bukannya aku enggan berbuat kebaikan melainkan hanya menunda kebaikan untuk mendapatkan kebaikan lebih besar. Semoga saja umur ini panjang sehingga rencana-rencana kebaikanku tertunaikan.

Medan, 18 Januari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s