Belajar Mencintai dari Habibie & Ainun

Ada yang bertanya, “Mas, knapa baca buku Ainun & Habibie?”. Saya jawab, “Emm…Lagi belajar mencintai, katanya mencintai itu perlu ilmu dan seni he…ilmu qobla ‘amal”. Setelah saya membaca buku setebal 319 halaman ini banyak hal yang dapat dijadikan teladan walaupun tidak semuanya.

Belajar keberanian dan optimis. Saat itu teman-teman Habibie mengatakan, “Kamu (maksudnya Habibie) harus tahu diri, kamu harus tahu Keluarga Ainun itu siapa? Sainganmu anggota keluarga terkemuka di Indonesia, berpendidikan lebih tinggi dari kamu, kaya, ganteng, sementara kamu siapa? Sepeda motor saja kamu tak punya…”. Ini menarik, di saat saya melihat banyak orang pesimis dan takut cintanya tak berbalas tapi Habibie mengajarkan keberanian dan optimis. Akhirnya dengan keyakinan kuat Habibie terus melangkah dan cintanya sampai di pelaminan.

Banyak orang menasehatkan, “Tunggulah sampai kamu benar-benar mapan”. Tapi saya melihat Habibie memulai saat belum benar-benar mapan. Habibie menceritakan awal rumah tangganya, saat itu Habibie baru bisa bekerja sebagai Asisten dan tenaga peneliti untuk seorang Professor , bernama Hans Ebner. Dengan gaji DM 1.300 (atau sekitar 680 Euro). Penghasilan ini tak jauh dari cukup untuk mereka berdua. Untuk menghemat, semuanya dikerjakan sendiri. Ainun bahkan harus menjahit sendiri pakaian mereka. Sementara Habibie, terpaksa harus berjalan kaki pulang dari kantor —yang melewati kompleks pekuburan (halaman 20). Namun akhirnya mereka bisa melalui masa-masa itu, memang setelah kesulitan ada kemudahan. Saya jadi ingat janji Allah, “…Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya…[QS.24:32]”.

Ainun berkata, “Saya bahagia malam-malam hari berdua di kamar: dia sibuk di antara kertas-kertasnya yang berserakan di tempat tidur, saya menjahit, membaca atau berbuat lainnya. Saya terharu melihat ia pun banyak membantu tanpa diminta: mencuci piring, mencuci popok bayi yang ada isinya…”. Saat baca cerita itu saya jadi ingat Rosulullah SAW yang membantu pekerjaan rumah Aisyah. Urwah pernah berkata kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah SAW jika ia bersamamu (di rumahmu)?”, Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember”. [HR Ibnu Hibban]

Hasri Ainun selalu mampu memberikan dukungan untuk sang suami. Di saat Habibie nyaris menyerah dalam menghitung teori Thermo Elstisitas, yang sudah ia kerjakan siang dan malam. Dengan pelukan dan ciuman di dahi, Ainun membisikkan saran meyakinkan, “Saya mengenal dan yakin atas keunggulanmu, apa yang kamu lakukan sudah benar, mungkin hanya ada kesalahan kecil”. Saya pun jadi ingat Khodijah, istri Rosulullah SAW yang sangat dicintainya sampai-sampai Aisyah RA mengatakan “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita lain selain Khadijah?! [HR. Bukhori]. Beliau bercerita: “Ia beriman kepadaku ketika semua orang kufur, ia membenarkan aku ketika semua orang mendustakanku, ia melapangkan aku dengan hartanya ketika semua orang mengharamkan (menghalangi) aku dan Allah memberiku rezeki berupa anak darinya.”[HR. Ahmad]

Bagi yang ingin mendapat pelajaran lebih banyak lagi, baca aja bukunya…di Gramedia banyak kok …Menurut saya kekurangan buku ini masih banyak salah tulis, cerita diulang-ulang, dan walaupun bentuknya mirip seperti novel tapi bahasanya berat. Tapi bagi saya buku ini sangat menarik dan bermanfaat.

Medan, 16 September 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s