Ibu Madrasah Anak

leafMinimal saya bekerja 8 jam/hari. Ditambah 2 jam/hari menghadapi kemacetan perjalanan pulang pergi kantor. Genaplah 10 jam/hari. Kalau wanita atau para ibu juga bekerja seperti itu lalu kapan waktunya mereka mendidik buah hatinya? Itulah pertanyaan yang tiba-tiba muncul saat melihat kenyataan yang ada saat ini. Ada kutipan menarik di buku Habibie & Ainun : “Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? “

“Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir, buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan kepada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi…dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orangtua kehilangan anak, dengan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan hidup pas-pasan”.

Itulah ungkapan jiwa Ibu Ainun Habibie. Dengan penuh kesadaran mendedikasikan dirinya ke buah hatinya. Tidak melalaikan kewajiban karena daya tarik materi. Mengutamakan hak buah hatinya daripada kesenangan karirnya. Kata penyair Sungai Nil, Hafizh Ibrahim:

ibu adalah madrasah, lembaga pendidikan
jika Anda mempersiapkannya dengan baik
maka Anda telah mempersiapkan bangsa yang baik
pokok pangkalnya

Melahirkan orang-orang besar. Saya rasa itulah tugas teragung wanita saat ini. Seperti Shofiyah binti Abdul Mutholib yang melahirkan Zubair bin Awam, ia seorang pemuda yang kokoh aqidahnya, terpuji akhlaqnya, tumbuh di bawah binaan ibunya. Kata Umar bin Khattab, “Satu orang Zubair menandingi seribu orang laki-laki”. Atau seperti Asma binti Umais yang melahirkan dan mendidik Abdullah bin Ja’far, seorang bangsawan Arab yang terkenal kebaikannya.

Mungkin juga seperti ibunya Umar bin Abdul Azis yang rela meluangkan waktu menunggui masa-masa pertumbuhan buah hatinya. Saat usia Umar bin Abdul Aziz masih kecil ia menangis, kemudian ibunya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia menjawab, “Aku ingat mati.” – waktu itu ia telah menghafal Al Qur’an – ibunya pun menangis mendengar penuturan buah hatinya.

Bisa juga seperti ibunya Sufyan Ats Tsauri yang menjadikan buah hatinya menjadi ulama besar, amirul mukminin dalam hal hadits. Saat ia masih kecil ibunya berkata padanya, “Carilah ilmu, aku akan memenuhi kebutuhanmu dengan hasil tenunanku.” Subhanallah! Saya rasa anak-anak saat ini rindu akan ucapan dan kasih sayang seorang ibu yang seperti ini.

Bukan berarti melarang wanita bekerja. Dalam islam wanita diperbolehkan bekerja. Namun, kalau mau bekerja sebaiknya memilih pekerjaan secara bijak, tanpa harus melalaikan kewajiban. Bagi laki-laki sebaiknya bekerja keras seperti Pak Habibie, jadi ibu dari buah hatinya tidak harus bekerja lagi. Semoga bermanfaat.

Medan, 19 Ramadhan 1432 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s