Di Bawah Lindungan Ka’bah

Tadi malam setelah dari Gramedia saya sempatkan nonton “Di Bawah Lindungan Ka’bah”. Terus terang saya penasaran dengan film yang diadaptasi dari novel Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) ini. Kabarnya film yang menelan biaya 24 M ini mampu membuat BJ. Habibie menangis teringat kisah kasihnya dengan Ibu Ainun Habibie.

Saya kaget saat film ini ada adegan “mounth to mounth ventilation”. Setau saya dalam rekam medis “mounth to mounth ventilation” ini baru popular di barat pada perang dunia dan saya rasa adegan itu seharusnya tidak ada pada film yang di set pada tahun 1920-an dan lokasinya di kampung pedalaman Indonesia. Semoga saja Buya Hamka yang sudah tenang di alam sana tak murka dengan adaptasi terbaru dari novelnya di tahun 1936 ini.

Tragis. Sangat tragis, kisah cinta dalam film ini. Cinta Zainab dan Hamid terhalang tradisi dan keinginan orang tuanya. Karena perbedaan kasta dan dibayangi hutang budi, Ibu Hamid melarang anaknya untuk berharap memiliki Zainab. Apalagi ternyata Zainab ingin dijodohkan dengan Arifin yang dianggap lebih setara status sosialnya. Cinta mereka tak sampai dipelaminan. Bahkan di akhir cerita, sepasang kekasih ini mati karena cinta

Katanya, dua jiwa yang sudah terpaut cinta akan tampak menyatu bagaikan api dengan panasnya, salju dengan dinginnya, laut dengan pantainya, rembulan dengan cahaya. Bisakah itu dipisahkan? Betapa sakitnya sepasang jiwa yang dipautkan cinta lantas dipisahkan tradisi atau apa saja. Tragedi Zaenudin dan Hayati dalam tenggelamnya Kapal Vanderwijck atau Qais dan Laila yang majnun kemudian mati karena cinta. Sakit. Dan sangat sakit. Sudah sepantasnya sepasang kekasih bertemu di pelaminan. Seperti sabda Nabi Saw, “Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang sudah saling jatuh cinta kecuali pernikahan.” [HR. Ibnu Majah]

Saat Khalifah Al Mahdi singgah beristirahat dalam perjalanan haji ke Makkah. Tiba-tiba seorang pemuda berteriak, “Aku sedang jatuh cinta”. Maka Al Mahdi pun memanggilnya, “Apa masalahmu?”. “Aku mecintai puteri pamanku dan ingin menikahinya. Tapi ia menolak karena ibuku bukan Arab. Sebab itu aib dalam tradisi kami”. Al Mahdi pun memanggil pamannya dan berkata padanya, “Kamu lihat putera-puteri Bani Abbasiyah? Ibu-ibu mereka juga banyak yang bukan Arab. Lantas apa salah mereka? Sekarang nikahkanlah lelaki ini dengan puterimu dan terimalah 20 ribu dirham ini: 10 ribu untuk aib dan 10 ribu untuk mahar.”

Medan, 3 September 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s