Takut Cinta Tak Berbalas

unwantedCintanya tulus. Niatnya baik. Menjaga kesucian diri. Memiliki cinta yang halal. Namun, kekhawatirannya terlalu tinggi. Jangan-jangan cintanya tak berbalas. Kandas terhempas takdir. Takut cintanya tak seperti kata Rumi “Apabila ada cinta di hati yang satu pasti ada cinta di hati yang lain”. Khitbahnya tak jadi melangkah. Kini akhir cintanya hanya terpendam dalam rasa. Jangan. Jangan salahkan mereka. Memang seringkali cinta yang tak berbalas membawa luka. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau seperti Qois dan Laila yang terluka karena cinta, membuatnya “majnun” kemudian mati. Kasihanilah mereka. Mereka orang-orang baik yang belum mengerti.

Cinta tak berbalas. Tak perlu sedih. Apalagi mengurung diri. Bahkan meratapi nasib. Bersikaplah kesatria seperti Abu Bakar saat melamar Fatimah, putri Rosulullah SAW. Lamaran sahabat paling sholeh itu ditolak. Akhirnya Fatimah menikah dengan Ali Bin Abi Tholib. Atau seperti lamaran Umar bin Khotthob yang ditolak Ummu Kultsum binti Abu Bakar, adiknya Aisyah. Cinta yang tak berbalas bukan akhir segalanya. Mengertilah kalau cinta berawal dan berakhir pada Allah, maka cinta pada yang lain hanya sekedar upaya menunjukkan cinta pada-Nya.

Kata Erich Fromm, “Cinta itu memberi”. Memberi apapun yang bisa diberikan sehingga orang yang dicintai bahagia tumbuh dan berkembang secara fisik, psikis dan spiritual. Memberi membuat posisi kita sangat kuat. Jadi saat uluran tangan cinta tertolak tak perlu kecewa dan bersedih hati. Kata Anis Matta, “Yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pencinta sejati selamanya hanya bertanya: “Apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder”.

Sei Deli, 25 Juli 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s