Niat dan Ikhlas

Judul buku : Niat dan Ikhlas
Penulis : Dr. Yusuf Al Qardhawy
Penerbit : Pustaka Al Kautsar
Tebal : 176 hal

Dr. Yusuf Al Qardhawy menyebutkan bahwa niat adalah kehendak yang kuat dan pasti yang mengarah kepada perbuatan. Niat merupakan amal hati secara murni, bukan amal lidah. Maka dari itu tidak pernah dikenal dari nabi SAW, tidak pula dari para shahabat dan orang-orang salaf bahwa adanya niat dalam ibadah yang dilafazhkan, seperti shalat, puasa, mandi, wudhu dll. Tidak akan ada seseorang yang mengatakan kehendaknya untuk pergi ke pasar dengan berkata “Aku berniat pergi ke pasar”.

Niat adalah ruh amal, inti dan sendinya. Amal menjadi benar karena niat yang benar, dan amal menjadi rusak karena niat yang rusak. Amal atau pekerjaan yang sama bernilai berbeda hanya karena perbedaan niat. Menjual senjata kepada orang lain untuk digunakan membunuh seorang muslim adalah haram namuna menjual senjata kepada orang lain untuk jihad fisabilillah adalah ketaatan dan qurbah. Orang yang tidak makan seharian namun tidak diniatkan untuk qurbah maka dia tidak disebut orang yang berpuasa. Seseorang yang berputar-putar di sekeliling ka’bah mencari sesuatu yang terjatuh, maka dia pun tidak mendapat pahala thowaf.

Niat yang ikhlas adalah dasar penerimaan amal. Sebab setiap amal sholih mempunyai dua sendi, yaitu amal yang niatnya ikhlas dan dilakukan dengan benar sesuai syariat. Niat yang ikhlas semata tidak cukup menjamin diterimanya amal, selagi tidak sesuai dengan ketetapan syariat atau dibenarkan sunnah. Amal yang dilakukan sesuai dengan ketentuan syariat tidak akan naik ke derajat penerimaan di sisi Allah selagi tidak disertai ikhlas dan pembebasan niat hanya karena Allah. Apa pun amal akhirat yang tidak disertai ikhlas, tidak ada bobotnya sama sekali dalam timbangan kebenaran. Jadi, tanpa ikhlas suatu amal tidak akan diterima, sekalipun zhahirnya baik dan bagus.

Mewujudkan niat yang ikhlas itu bukan pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu perlu usaha maksimal untuk mewujudkan keikhlasan, selalu memperhatikan pintu-pintu masuk bagi syetan ke dalam jiwa, membersihkan jiwa dari unsur-unsur riya’, kesombongan, gila kedudukan dan suka pamer. Sebab unsur-unsur seperti ini lebih banyak menguasai jiwa manusia. Sahal bin Abdullah At Tustary, “Apakah sesuatu yang paling berat bagi jiwa?”. Maka dia menjawab, “Ikhlas, sebab dia tidak mendapatkan apa-apa”. Yahya bin Abu Katsir berkata, “Belajarlah niat, karena niat itu lebih penting daripada amal”. Ulama yang lain mengatakan, “memurnikan niat jauh lebih sulit bagi para ahli ibadah daripada segala amal”.

Dalam buku ini niat dan keikhlasan dijabarkan oleh Dr. Yusuf Al Qardhawy dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah difahami yang disertai dengan dalil-dalil yang dapat dijadikan hujah. Buku Niat dan Ikhlas ini sangat baik dibaca oleh para aktivis dakwah yang ingin mengembalikan kejayaan islam. Niat yang ikhlas bisa meluruskan amal, menguatkan kemauan melebarkan jalan dan membantu menyingkirkan sandungan. Salim bin Abdullah penah menulis surat keada Umar bin Abdul Aziz, “Ketahuilah bahwa pertolongan Allah yang diberikan kepada hamba tergantung kepada kadar niatnya. Barangsiapa niatnya sempurna, maka pertolongan Allah pun akan sempurna. Barangsiapa niatnya berkurang, maka kadar pertolongan itu juga akan berkurang”. Nabi bersabda: “Sesungguhnya Allah menolong umat ini hanya dengan orang-orang lemah di antara mereka, yaitu dengan dakwah, sholat dan keikhlasan mereka.

Bogor, 6 Januari 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s