Seorang Muslim Memulai Karir

Perjuangan keras di bangku kuliah telah dilalui. Namun bukan berarti selesai sudah permasalahan hidup. Dalam pengetahuan umum masyarakat, setelah kuliah haruslah mencari kerja. Tidak aneh setelah lulus kuliah setiap orang berbondong-bondong menuju bursa kerja untuk memulai perjalanan karirnya. Orang muslim dan orang kafir pun sama-sama bergerak membangun karirnya namun arah dan cara yang digunakan berbeda.

Kecintaan yang sangat terhadap dunia menjadi motivasi utama orang kafir dalam memulai karirnya. Arah perjalanan karir mereka hanyalah untuk dunia. Allah berfirman: “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat” [QS.16:107]. Kecintaan mereka kepada uang yang melimpah, kendaraan mewah, pakaian bermerk, perhiasan dari emas, rumah yang besar, kenyamanan hidup di hari tua, kedudukan terhormat di masyarakat menjadi energi utama yang menggairahkan mereka dalam berkarir. Kecintaan yang sangat terhadap dunia membuat mereka menghalalkan segala cara untuk membangun karirnya. Di sana tidak ada pertimbangan halal maupun haram. Seluruh totalitas kehidupan dihabiskan untuk membangun karir, sedikit sekali atau bahkan tidak ada sama sekali waktu yang mereka gunakan untuk menyiapkan kehidupan akhirat mereka.

Seorang muslim pasti berbeda dengan orang kafir, Allah berfirman: “Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama” [QS. 32:18]. Seorang muslim memulai karirnya karena bagian dari ketaatan kepada Allah dan tuntutan untuk meraih kebahagian akhirat. Arah perjalanan karir seorang muslim adalah untuk meraih kebahagian akhirat. Mereka bekerja keras karena mereka ingin dengan sebaik-baiknya menyambut seruan Allah, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak” [QS.2:245]. Mereka bekerja keras karena mereka ingin mendapatkan harta yang dapat mereka nafkahkan untuk menjalankan perintah Allah. Mereka sangat rindu untuk bisa berjihad dengan hartanya. Mereka ingin menyantuni orang miskin/anak yatim. Mereka sangat berharap mampu menafkahi keluarga mereka dengan sebaik-baiknya sesuai perintah-Nya. Mereka ingin berhaji ketika musim haji tiba. Mereka ingin menyembelih hewan qurban ketika musim qurban. Mereka ingin bersedekah. Mereka berharap bisa beraqiqoh ketika anak-anak mereka lahir. Mereka ingin mengeluarkan harta mereka untuk berdakwah dijalan-Nya. Mereka bekerja keras karena mereka tidak ingin hidup dari hasil meminta-minta, “Orang yang meminta-minta bukan karena kebutuhan yang mendesak, sperti orang yang memungut bara api” [HR. Tirmidzi]. Keinginan untuk mentaati perintah Allah, itulah sumber energy utama kegairahan seorang muslim dalam membangun karirnya.

Membangun karir sebagai salah satu wujud ketaatan kepada Allah, mengharuskan seorang mukmin membangun karirnya dengan cara yang benar. Seorang mukmin pasti memilih pekerjaan yang halal dan tidak terlena ketika bekerja. Pekerjaan tidak membuat mereka lupa untuk tunduk patuh kepada Allah dan berdakwah di jalan-Nya. Wallahua’lam.

Bogor, 18 Februari 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s