Tips Memperbaiki Diri (Bagian 2)

Kalau ditelusuri dengan pemikiran yang mendalam semua kejahatan dilakukan karena dua faktor, yaitu: karena ketidaktahuan dan atau karena mengikuti hawa nafsu. Penyakit ketidaktahuan menyerang akal sehingga orang sulit membedakan benar dan salah. Penyakit mengikuti hawa nafsu menyerang hati sehingga seseorang memiliki motivasi yang lemah dalam melakukan kebaikan. Inilah penyakit yang menyebabkan seseorang enggan melakukan kebaikan dan ringan melakukan dosa. Lalu bagaimana menyembuhkan penyakit jiwa ini? Apa obatnya?

Obat dari penyakit ini hanyalah satu yaitu Al-Qur’an. Dengan mempelajari Al Qur’an seseorang akan mampu membedakan dengan jelas antara yang benar dengan yang salah sehingga penyakit ketidaktahuan bisa terobati oleh Al Qur’an. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil) [QS. 2: 185]. Umar bin Khotthob di masa jahiliyah pernah mengubur hidup-hidup anak perempuannya dan sering membuat Tuhan dengan tangannya sendiri untuk disembah. Perbuatan yang dilakukan Umar bukanlah perbuatan yang salah menurut adat jahiliyah ketika itu. Jika ada anak perempuan yang lahir maka harus dibunuh. Membuat Tuhan dengan tangan sendiri kemudian disembah adalah biasa. Umar melakukan itu semua karena Umar tidak tahu kalau perbuatan itu salah. Namun, semenjak Umar masuk islam dan berinteraksi dengan Al Qur’an, semua perbuatan itu ditinggalkan karena Umar sadar menurut Al Qur’an itu semua perbuatan salah. Ketika Umar mengingat masa jahiliyah itu Umar sering menangis dan tertawa. Para shohabat pun bertanya: “Wahai Umar kenapa engkau menangis dan kemudian tertawa?”. Umar menjawab: “Aku menangis karena ingat di masa jahiliyah aku telah tega membunuh hidup-hidup anak perempuanku. Dan aku tertawa karena di masa jahiliyah aku sering membuat Tuhan dari makanan dan kalau aku lapar aku pun memakan Tuhan-Tuhan itu. ”

Terkadang orang melakukan kesalahan bukan karena dia tidak tahu kalau perbuatan itu salah (dosa). Perbuatan itu dilakukan karena dia lebih cenderung mengikuti keinginan hawa nafsunya. Orang semacam ini dalam hatinya terserang penyakit hawa nafsu yang senantiasa diikuti sehingga motivasi untuk melakukan kebaikan melemah. Obat dari penyakit inipun adalah Al Qur’an. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman [Qs. 10: 57]. Al Qur’an menanamkan aqidah yang benar dalam diri seseorang. Allah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa yang harus disembah. Ada kehidupan akhirat setelah kehidupan dunia. Ada pembalasan amal di sana. Ada siksa neraka dan ada kenikmatan surga. Keyakinan ini terus diulang-ulang dalam Al Qur’an sehingga tertanam kuat bagi orang-orang yang beriman. Keyakinan yang kuat tentang kekuasaan Tuhan dan keberadaan hari akhir akan mampu melawan keinginan hawa nafsu. Di sana ada janji dan ada ancaman.

Kecenderungan hawa nafsu yang kuat bisa dilawan dengan motivasi tinggi melakukan kebaikan. Motivasi melakukan kebaikan bisa dibangun dengan janji (kenikmatan surga) dan ancaman (siksa neraka). Ada seorang anak kecil yang menangis kemudian ibunya datang dan berkata: “Dek, jangan menangis. Kalau adek diam besok ibu belikan mainan”. Seketika itu anak kecil itupun berhenti menangis dan berkata: “Ibu janji ya?”. “Iya ibu janji”, jawab sang ibu meyakinkan anaknya. Inilah seorang anak yang hawa nafsu mendorongnya untuk menangis tetapi kecenderungan hawa nafsu itu dia lawan untuk untuk meraih apa yang dijanjikan ibunya.

Keyakinan yang kuat akan negeri akhirat akan membuat orang mudah melawan hawa nafsunya. Ketika turun ayat: Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai [QS. 3: 92]. Abu Huroiroh datang kepada Rosulullah SAW dan menginfaqkan harta yang paling dicintai. Ketika ayat larangan minuman keras turun kepada orang-orang islam [QS. 5: 90]. Maka orang-orang yang saat itu di mulutnya masih terdapat minuman keras langsung dimuntahkan. Persediaan arak dibuang, bejana-bejana arak dipecahkan. Inilah contoh generasi yang memiliki keyakinan yang kuat akan balasan yang baik disisi Allah sehingga melawan hawa nafsu begitu mudah bagi mereka.

Berinteraksi dengan Al Qu’an adalah obat untuk menghentikan kegemaran berbuat dosa. Wallahualam.

Kampus IPB, 28 Juli 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s