Tips Memperbaiki Diri (Bagian 1)

Berbagai jalan kebaikan enggan ditempuh. Sholat malam malas dikerjakan. Puasa sunah tidak pernah dilakukan. Majlis ta’lim jarang dihadiri. Rukuk dan sujud di masjid sering ditinggalkan. Membaca Al Quran tidak diminati. Menolong orang enggan dilakukan. Infaq fi sabilillah terasa berat. Menyeru kebaikan dan mencegah kejahatan sungkan dilakukan. Perintah Allah tidak dikerjakan. Berbagai jalan kemaksiatan terus ditempuh. Hawa nafsu senantiasa diikuti. Lisan berkata kotor dan tidak berguna. Sifat malas selalu melekat. Kebohongan biasa dilakukan. Aurat yang tidak ditutup rapat. Mendholimi orang lain sering dilakukan. Larangan Allah terus dilanggar. Berbagai kebaikan enggan dilakukan dan berbagai kejahatan terus dilakukan. Bagaimana ini? Masihkah ada cara memperbaiki diri? Apa yang harus dilakukan?

Semasih nyawa belum dicabut, kesempatan memperbaiki diri masih terbentang luas. “Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [An Nisaa: 110]. Sebelum seorang dokter memberikan resep obat, dokter akan terlebih dahulu memeriksa penyakit pasiennya dan mencari sebabnya. Dengan cara ini dokter berharap obat yang diberikan tidak salah dan sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. Jangan sampai salah memberikan obat Diapet kepada pasien yang sakit perut karena sudah lama tidak bisa buang air besar. Bisa berakibat fatal.

Jiwa yang sakit adalah jiwa yang enggan melakukan kebaikan dan merasa ringan melakukan kejahatan. Sebelum mengobati jiwa yang sakit ini perlu dilakukan diaknosis penyebab penyakit ini. Sebenarnya orang melakukan kejahatan hanya karena dua factor dan tidak ada factor yang lain kecuali dua factor ini, yaitu: karena ketidaktahuan dan atau karena mengikuti hawa nafsu.

Orang yang melakukan kesalahan karena ketidaktahuan misalnya, seorang anak TK disuruh mengerjakan soal perkalian 1-10 dan ternyata seluruh jawaban anak tersebut salah. Setelah ditelusuri ternyata anak TK itu belum pernah diajari perkalian dan tidak tahu perkalian sama sekali dia cuma tahu penjumlahan. Seorang perempuan dewasa tidak memakai jilbab yang menutup auratnya dan setelah ditelusuri ternyata dia tidak tahu kalau memakai jilbab itu hukumnya wajib bagi perempuan dewasa. Inilah kesalahan yang dilakukan karena ketidaktahuan.

Orang yang melakukan kesalahan karena mengikuti hawa nafsu misalnya, seorang anak perempuan kelas 6 SD disuruh mengerjakan soal perkalian 1-100 dan ternyata seluruh jawaban anak itu salah. Setelah ditelusuri ternyata penyebabnya bukan karena anak itu tidak bisa mengerjakan perkalian tetapi seluruh jawaban salah memang disengaja karena anak itu sedang kesal dengan ibunya. Para koruptor negeri ini menghabiskan uang rakyat bukan karena mereka tidak tahu kalau perbuatan tersebut berdosa. Mereka korupsi karena mengikuti hawa nafsu mereka yang rakus. Kesalahan yang dilakukan karena dorongan hawa nafsu.

Kalau ditelusuri dengan pemikiran yang mendalam semua kejahatan dilakukan karena dua factor, yaitu: karena ketidaktahuan dan atau karena mengikuti hawa nafsu. Inilah penyebab penyakit jiwa yang enggan melakukan kebaikan dan ringan melakukan dosa. Lalu bagaimana menyembuhkan penyakit jiwa ini? Apa obatnya?

Bersambung…

Satu pemikiran pada “Tips Memperbaiki Diri (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s