Antara Kuliah, Kerja dan Nikah

Teman bermain diwaktu kecil itu kini telah banyak yang menjadi ayah dan ibu dari anak-anaknya. Kabar pernikahan teman telah memenuhi inbox di hand phone. Undangan pernikahan datang silih berganti. “Masih kuliah, belum kerja, tapi pingin nikah, bagaimana ya?” itulah pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam benak. Pertanyaan yang memaksa berfikir keras mencari jawabnya. Pertanyaan yang memberikan energi untuk membuka kembali kitab-kitab klasik yang telah berdebu di atas rak. Pertanyaan yang memacu akal dan hati untuk memikirkan dan merenungi dalam-dalam setiap lembaran itu.

Pada dasarnya kuliah dan nikah adalah urusan yang berbeda. Kita bisa memilih kuliah dulu kemudian nikah. Atau kuliah dan sudah menikah. Walaupun kuliah dan nikah itu urusan yang berbeda, bukankah itu saling berhubungan dan mempengaruhi? Memang ada hubungan antara nikah dan kuliah. Tapi tidak ada hubungan yang pasti bahwa nikah akan mengganggu kuliah. Telah banyak orang yang membuktikan bahwa nikah tidak mengganggu kuliah. Dan bahkan kakakku sendiri nikah di semester enam dan sukses kuliahnya. Namun juga tidak menutup mata memang ada kasus orang yang kuliahnya berantakan karena menikah sewaktu masih menjadi mahasiswa. Namun saya amat sangat yakin kalau ada dua insan yang sholeh kemudian melakukan akad nikah untuk menjaga kesucian dan kehormatan diri pasti mereka akan mampu menjalani kuliah dan kehidupan rumah tangga secara bersamaan dengan baik. Keyakinan ini semakin menguat dengan janji Allah. Allah menjanjikan kehidupan yang baik di dunia maupun di akhirat bagi orang yang sholeh. Dua insan sholeh yang melakukan akad nikah untuk tetap menjaga kesholehannya pasti Allah akan menolongnya, memberi jalan keluar dari setiap kesulitannya dan memberinya kehidupan yang baik. Allah tidak akan mengingkari janji-Nya.

“Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”. [QS. An Nahl: 97]

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. [QS. At Thalaq: 2-3]

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” [QS. Ar Ruum: 47]

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”. [QS. Al Mukmin: 51]

“Tiga orang yang Allah SWT wajib menolong mereka, yaitu: orang yang berjuang di jalan Allah SWT, budak yang dijanjikan merdeka oleh tuannya jika memenuhi syarat sedangkan dirinya mau berusaha untuk memenuhi syarat itu, lalu orang yang mau menikah dengan tujuan untuk memelihara kesucian dirinya.” [HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, dan Hakim; Hakim menshohihkan hadits ini]

“Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [QS. Ar Ruum: 6]

Setiap orang pasti menghadapi dua pilihan status membujang atau menikah. Untuk mengambil keputusan dari suatu pilihan islam mengajarkan beberapa kaidah dasar berfikir. Kalau kita menghadapi pilihan maka pilihlah pilihan yang paling besar manfaatnya. Kalau pilihan itu mendatangkan madhorot (kerugian) semuanya maka pilihlah yang paling kecil madhorotnya (kerugiannya). Contoh: kalau membujang membuat diri kita banyak melakukan dosa (spt: mata sulit dikendalikan, nafsu yang sering bergelora, perasaan yang sulit dijaga, dsb) sedangkan menikah mampu membentengi diri dari dosa maka pilihan yang paling tepat adalah menikah. Namun kalau kondisi kita membujang tapi masih bisa menahan diri dari perbuat dosa sedangkan kalau menikah kondisi kita masih belum bekerja dan masih kuliah maka pilihan yang paling tepat adalah menunda menikah.

Jika kondisi saat ini membujang dan banyak melakukan dosa karenanya sedangkan menahan diri dari dosa itu benar-benar sulit kalau mau menikah belum memiliki pekerjaan atau materi yang mapan, maka luruskan niat dan putuskanlah untuk segera menikah. Kenapa demikian? Karena hidup membujang dengan berlumuran dosa adalah hidup yang penuh penderitaan. Bagi orang yang beriman dosa-dosa itu akan terus membayanginya. Ketenangan hidup pun sirna karenanya. Dan di akhirat kelak Allah akan membalas dosa itu dengan siksa yang amat sangat pedih. Pada saat itu akan terdiam berputus asa penuh dengan penyesalan terhadap dosa-dosa. Sedangkan keputusan untuk menikah dengan kondisi materi yang belum mapan adalah keputusan yang jauh lebih baik dan membahagiakan. Walaupun mungkin akibatnya jika menikah pada kondisi itu akan hidup dengan sedikit kekurangan bahan makanan dan harta benda. Tapi bagi orang-orang yang beriman sedikit kekurangan bahan makanan dan harta benda jauh lebih membahagiakan dan menenangkan daripada hidup kecukupan tapi berlumpuran dosa. Sahabat nabi, Bilal bin Robah pernah menghadapi dua pilihan islam atau keluar dari islam. Jika dia keluar dari islam maka dia akan hidup penuh dengan kecukupan dalam lindungan majikannya namun hidup berlumpuran dosa. Tapi jika dia memilih islam dia harus menghadapi siksaan majikannya. Bilal bin Robah pun membuat keputusan memilih islam dengan segala resikonya. Badan yang ditindih batu, siksaan yang bertubi-tubi, panas terik padang pasir yang luas jauh lebih membahagiakan Bilal bin Robah daripada hidup kecukupan dan aman tapi berlumuran dosa. Bilal bin Robah sangat yakin Allah akan menolongnya dan memberikan balasan surga kepadanya. Akhirnya Allah pun menolongnya dari siksaan majikannya melalui tangan Abu Bakar yang memerdekakan Bilal. Dan Bilal pun termasuk orang yang dikabarkan nabi masuk surga.

Islam tidak pernah melarang menikah bagi orang yang belum mapan secara materi. Sahl bin Sa’ad menuturkan bahwa seorang wanita menjumpai Nabi SAW dan berkata, “Wahai Rosulullah, aku menyerahkan diri untuk engkau nikahi”. Wanita itu tetap berdiri cukup lama hingga seorang sahabat berdiri dan berkata, “Wahai Rosulullah nikahkanlah dia dengan aku jika engkau tidak ingin menikahinya.” Rosulullah SAW bertanya, “apakah engkau punya sesuatu sebagai mahar baginya?” Sahabat itu menjawab, “Aku hanya punya baju yang kupakai ini.Nabi Saw bersabda, “jika kain itu yang engkau berikan maka ketika duduk engkau tidak punya kain lagi”, carilah benda lain. Sahabat itu menjawab, “aku tidak punya apa-apa lagi”. Nabi Saw bersabda, “carilah apa saja, walaupun hanya sebuah cincin besi.” Sahabat itu mencarinya tetapi tetap saja tidak menemukannya. Lantas Nabi SAW besabda, “kalau begitu aku nikahkan kalian berdua dengan mahar ayat-ayat Al Quran yang engkau kuasai.” [HR. Bukhori dan Muslim]

Kekurangan harta sering kali menjadi masalah utama seseorang untuk tidak segera menikah. Namun dalam islam bagi orang-orang yang ingin menikah untuk menjaga kesucian dan kehormatan dirinya sedang dia tidak mampu menikah karena kekurangan harta, masyarakat islam yang memiliki kemampuan wajib membantunya dalam pernikahan. Adapun setelah pernikahan Allah menjanjikan rizki yang banyak bagi mereka jika mereka mau berusaha dengan sungguh-sungguh.

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. [QS. An Nuur: 32]

Kampus IPB, 4 Juli 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s