Buat Apa Ngaji?

FlowerSebelum terlalu jauh, ngaji yang dimaksud di sini adalah setiap aktifitas untuk mempelajari Al Qur’an. Memang tidak ada jaminan, dengan ngaji mahasiswa yang IPK-nya rendah akan naik IPK-nya. Tidak ada jaminan orang miskin harta menjadi kaya raya karena ngaji. Dan tidak ada janji Allah yang menyebutkan bahwa setiap orang yang ngaji pasti diberi harta benda yang banyak, wanita yang cantik, jabatan yang tinggi, anak keturunan yang dapat dibanggakan maupun pekerjaan prestisius dengan gaji tinggi. Faktanya sering kita lihat banyak orang yang tidak ngaji dan bahkan orang kafir memiliki harta yang banyak, anak-anak yang dapat dibanggakan dan kesenangan hidup lainnya. Allah berfirman dalam surat Al Baqoroh ayat 126 yang artinya “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali’. Jadi kalau yang diinginkan hanya sekedar kesenangan hidup seperti tadi maka ngaji memang tidak perlu kita lakukan.

Ngaji adalah untuk mengetahui perintah Allah yang kemudian dikerjakan. Bukan sekedar mempelajari Al Qur’an untuk dinikmati keindahan sastranya atau menikmati rasa nikmat yang ditimbulkannya. Bukan untuk menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan dan ilmu fiqih. Sehingga otak menjadi penuh dengannya. Sekali lagi, ngaji adalah untuk memahami perintah Allah dan segera melaksanakan setelah dipahami. Kata Sayyid Qutb “ persis sebagaimana prajurit di lapangan menerima perintah hariannya untuk dilaksanakan segera setelah diterima”. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim diceritakan bahwa ketika turun surat Ali Imron ayat 92, Abu Tholhah datang kepada Rosulullah SAW dan berkata: “ Ya Rosulullah sesungguhnya Allah ta’ala berfirman: LAN TANALUL BIRRO KHATTA TUNFIQU MIMMA TUKHIBBUN (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai) dan sesungguhnya harta yang paling saya cintai adalah kebun Bairuha’ maka kebun itu saya sedekahkan karena Allah ta’ala maka pergunakanlah wahai Rosulullah sesuai petunjuk Allah kepada engkau”. Ngaji untuk mengetahui perintah dan segera dikerjakan, itulah yang dilakukan generasi pertama (generasi shahabat). Ngaji untuk sekedar mempelajari dan dinikmati, itulah yang kebanyakan dilakukan generasi sekarang sehingga islam mengalami keterpurukan.

Ngaji untuk mengetahui perintah Allah dan segera mengerjakannya, itulah satu-satunya jalan yang mengantarkan ke surga. Allah berfirman dalam surat Al Fath: 17 yang artinya: “Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya; niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barang siapa yang berpaling niscaya akan diazab-Nya dengan azab yang pedih”. Ngaji hanya untuk menambah ilmu saja atau mengetahui perintah saja tanpa mentaatinya atau mengerjakannya adalah cara ngaji orang yang dimurkai Allah. Sebagaimana orang Yahudi dimurkai Allah karena ia mengetahui kebenaran namun tidak mau mengikutinya. Sedangkan orang yang tidak mau ngaji akan menjadi orang-orang tersesat dalam hidupnya sebagaimana tersesatnya orang-orang nasrani.

“Setiap insan yang merindukan surga, pasti ngaji. Ngaji untuk mendengarkan perintah Allah dan segera mungkin dikerjakan. Hanya insan yang tidak rindu surgalah yang tidak mau ngaji. Marilah berlomba-lomba dalam kebaikan sebelum ajal itu datang.”

Kota Hujan, 27 Februari 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s