Pelabuhan Jiwa

Posted by: Empunya Blog on: Januari 18, 2012

Haruskah seperti kata Ebiet G Ade. Bertanya pada rumput yang bergoyang. Ataukah tidak harus menjawab. Biarkan menjadi misteri. Seperti misterinya bagiku kenapa Ibnu Taymiyah, Imam Nawawi, dan Sayyid Quthb masih sendiri dalam kematiannya? Itulah yang terpikirkan, saat Tyas Tatanka bertanya:

“Kenapa tak pernah kau tambatkan
Perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu.
Pelabuhan tenang yang mau menerima
Kehadiran kapalmu!
Kalau dulu memang pernah ada.
satu pelabuhan kecil, yang kemudian.
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?
Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu”

Tyas, bukannya aku enggan berbuat kebaikan melainkan hanya menunda kebaikan untuk mendapatkan kebaikan lebih besar. Semoga saja umur ini panjang sehingga rencana-rencana kebaikanku tertunaikan.

Medan, 18 Januari 2012

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Blog ini

Blog Stats

  • 8,982 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.