Posted by: Empunya Blog on: Agustus 10, 2011
Saya tidak tahu nama gadis itu. Paras wajahnya juga belum tahu. Cantik atau tidak. Tidak ada penjelasan tentang itu. Mungkin tidaklah terlalu penting. Jiwanya sudah terlampau cantik. “Kecantikan jiwa membawa kecantikan raga”, kata Ibnul Qoyyim Jauziyah. Kebaikannya menebar pesona. Padahal gadis itu hanyalah anak penjual susu.
Malam itu begitu larut. Orang-orang terlelap tidur. Amirul mukminin Umar bin Khothob RA masih berkeliling melihat keadaan rakyatnya. Terdengar dari dalam rumah penjual susu. “Nak, campurlah susu itu dengan air!”, perintah seorang ibu kepada anak gadisnya. Namun anaknya menyangkal, “Sungguh, amirul mukminin melarang perbuatan itu, Ibu.” Kemudian sang Ibu menimpali, “Tetapi Umar tidak melihat perbuatan kita.” Sang gadis itu pun menjawab, ”Seandainya Umar tidak melihat kita, maka Tuhan yang menciptakan Umar melihat kita.” Setelah mendengar percakapan itu Umar memberikan tanda pada rumah tersebut dan pergi.
Jiwanya begitu agung. Imannya sempurna. Kebaikannya menebar pesona. Menyinari hati amirul mukminin dan putranya. Membuat amirul mukminin kembali dan meminang gadis itu untuk putranya, Ashim. Dari pernikahan mereka lahirlah seorang anak gadis yang dinikahi Abdul Azis bin Marwan, yang kemudian melahirkan seorang kholifah yang zuhud dijuluki khulafaurrosyidin ke-5 yaitu Umar bin Abdul Azis. Di tangannya islam menemui masa keemasan.
Itulah. Potongan sejarah generasi terbaik. Teladan bagi orang-orang bertakwa. Semoga bermanfaat.
Perumahan Cemara Asri, 8 Ramadhan 1432 H
Komentar