Posted by: Empunya Blog on: Juli 14, 2010
Bulan Juli 2010 mahasiswa baru IPB berbondong-bondong datang dari segenap pelosok negeri. Mata ini terbelalak melihat mahasiswa baru, mengingatkan ternyata sudah empat tahun lamanya perjuangan meraih gelar S1 ini ditempuh. Kapan perjuangan ini berakhir? Tanggal 15 September 2010 semoga menjadi akhir dan saksi kemenangan perjuangan ini. Berusaha dengan sungguh-sungguh dan berdo’a dengan penuh harap telah menjadi wakaf dari perjuangan ini. Sebenarnya tidak ada jaminan pasti dari wakaf ini berbuah kemenangan pada tanggal 15 September 2010. Berusaha dengan sungguh-sungguh dan berdo’a dengan penuh harap, itulah yang bisa dilakukan. Di luar itu semua adalah mutlak kehendak Allah. Hanya satu keyakinan yang ada, Allah pasti memberikan takdir yang terbaik.
Ujung jalan perjuangan ini mulai tampak. Rasa kekhawatiran masa depan mewarnai perasaan. Setelah ini apa yang harus dilakukan. Angka pengangguran di negeri ini telah mencapai 23 juta orang. Apakah akhir perjuangan ini hanya akan menambah angka pengangguran? “Tidak”, itulah teriakan hati kecil mencoba menghilangkan kekhawatiran. Kenapa harus khawatir? Bukankah Allah sang pengatur rizki. Seekor burung yang keluar di pagi hari dari sarangnya tanpa perencanaan dan bekal dapat kembali ke sarangnya di sore hari dalam keadaan kenyang. Memalukan sekali jika manusia ini kalah dengan seekor burung. Perasaan dicoba ditata ulang kembali. Optimis mewarnai perasaan. Keyakinan akan firman-firman Allah memberikan energi baru.
“Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”. [QS. An Nahl: 97]
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. [QS. At Thalaq: 2-3]
“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” [QS. Ar Ruum: 47]
Sebenarnya ada satu hal yang layak dikhawatirkan. Rasa khawatir jangan-jangan perjuangan selama empat tahun ini tidak memiliki pahala di sisi Allah. Uang berpuluh-puluh juta telah dikeluarkan. Waktu yang cukup lama telah dikorbankan. Kerja keras telah dilakukan. Kampung halaman telah ditinggalkan. Keringat orang tua ikut menetes karenannya. Alangkah ruginya jika pengorbanan ini tak bernilai disisi-Nya.
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. Huud; 15-16]
Asrama Al Hurriyyah, 14 Juli 2010
semangat terus ya…………kataballohu laka an najah fi kulli umur
Alloh telah menakdirkan sesuatu pada hambanya dan tak akan akan satupun yang salah dalam ketetapannya………….sekalipun itu antum belum lulus kuliah, ada hikmah dari tiap peristiwa…………..SEMANGGI……….semangat tinggi…………..
Juli 16, 2010 pada 12:17 am
keren… artikel yang sangat menyentuh
semoga perjuangannya membuahkan hasil yang indah
hmm… seperti kisah si doel anak sekolahan, hehe…
salam kenal and sukses selalu…
sedj
http://sedjatee.wordpress.com