Merenungi Kesibukan

Merenung...
Kuliah yang harus dihadiri. Laporan yang segera dikumpulkan. Tugas kuliah yang banyak. Proposal yang harus diajukan. Rapat yang perlu diikuti. Kepanitiaan yang harus dijalankan. Janji dengan rekan bisnis yang harus ditepati. Bergaul dengan teman-teman terdekat. Ngaji yang menjadi kewajiban. Aktifitas yang sangat banyak. Jatah waktu yang sangat sedikit. Melahirkan kesibukan yang luar biasa. Ruang merenung dan berfikir pun habis karenanya. Padahal dalam kesibukan itu ada yang harus direnungi dan difikirkan secara mendalam.
Pertama, kesibukan seperti apakah yang telah menyita waktu kita? Jika itu adalah kesibukan dalam hal yang mubah, sepele, tidak manfaat, atau bahkan itu adalah kesibukan dalam pembangkangan terhadap pencipta. Kita perlu mawas diri dan segera ingat nasehat Nabi kita yang mafhumnya “Allah akan memudahkan calon penghuni neraka untuk melakukan berbagai kemaksiatan”. Namun apabila kesibukan yang menghabiskan usia kita adalah kesibukan dalam hal kewajiban, sunnah, bermanfaat bagi manusia yang lain. Hati kita boleh sedikit saja merasa lega dan senang.
Kedua, untuk apakah kesibukan itu dilakukan? Kita simak kembali, Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat (QS. 42 Asy Syuro:20). Kalau kesibukan itu hanya untuk mencari keuntungan dunia saja, maka ketahuilah keuntungan dunia mungkin akan kita dapatkan tetapi akherat pasti tidak kita dapatkan. Jadi, kesibukan-kesibukan kita seperti kuliah, belajar, rapat, berorganisasi, ngaji, berwirausaha dan kesibukan yang kita kira kebaikan kalau itu hanya untuk mendapatkan keuntungan atau kesenangan hidup di dunia ketahuilah itu juga bagian dari kesibukan yang mencelakakan. Di zaman itu ada yang bertanya, Ya Rosulallah jika seseorang berperang untuk mencari ketenaran dan balasan, maka apa yang didapatkan? Jawab beliau: Dia tidak mendapat apa-apa.
Wahai insan, ketahuilah kesibukan yang kita lakukan harus terdapat dua unsur didalamnya yaitu benar dan ikhlas. Itulah kesibukan yang berujung kebahagian,berupa surga.
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.
(QS. 6 Al An’aam: 153)
Maret 4, 2009 pada 4:23 pm
curhat …… ehm….ehm…
KLIK irawanisme.co.cc
Maret 11, 2009 pada 10:37 pm
ya iyalah…G da tmn curhat nih Wan…