Posted by: Empunya Gubuk on: Januari 20, 2012
Kisah memilukan salah seorang teman atasan saya. Dua puluh tahun lebih keharmonisan rumah tangga dijalaninya. Suami istri itu sama-sama bekerja di perusahaan besar di Jakarta. Keinginan mendapatkan gaji lebih tinggi dan tawaran fasilitas yang lebih baik membuat mereka pindah kerja ke perusahaan lain. Akhirnya istri di Jakarta sebagai kepala HRD di salah satu swalayan. Dan suami kerja di Kalimantan sebagai kepala legalitas perusahaan tambang dengan kepulangan setiap bulan sekali. Suami istri yang seharusnya selalu bersama, jarak telah memisahkan mereka. Ketidakpercayaan antara keduanya mulai muncul. Baru tiga bulan bekerja suami tersebut disukai seorang wanita rekan kerjanya di Kalimantan. Berita itu pun akhirnya sampai kepada istrinya. Singkat cerita, rumah tangganya tak mampu dipertahankan, kandas dan berakhir perceraian. Kini suami itu menyesali pilihan pekerjaannya dan berupaya mengembalikan keutuhan rumah tangganya. Kata sesepuh di kantor, “Itulah yang terjadi saat memilih pekerjaan tidak mempertimbangkan aspek keluarga”.
Emm…menurut saya memilih pekerjaan bukanlah sekedar memilih pekerjaan yang bergaji tinggi. Bahkan Baca entri selengkapnya »
Posted by: Empunya Gubuk on: Januari 18, 2012
Haruskah seperti kata Ebiet G Ade. Bertanya pada rumput yang bergoyang. Ataukah tidak harus menjawab. Biarkan menjadi misteri. Seperti misterinya bagiku kenapa Ibnu Taymiyah, Imam Nawawi, dan Sayyid Quthb masih sendiri dalam kematiannya? Itulah yang terpikirkan, saat Tyas Tatanka bertanya:
“Kenapa tak pernah kau tambatkan
Perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu.
Pelabuhan tenang yang mau menerima
Kehadiran kapalmu! Baca entri selengkapnya »
Posted by: Empunya Gubuk on: Januari 7, 2012
Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada Hari Ini Pulang ke Almamaternya
I
Dia mahasiswa tingkat terakhir
ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram
untuk tugas membina masyarakat tani di sana.
Dia menghilang
15 tahun lamanya.
Orangtuanya di Langsa
memintanya pulang.
IPB memanggilnya
untuk merampungkan studinya,
tapi semua
sia-sia. Baca entri selengkapnya »
Posted by: Empunya Gubuk on: Desember 2, 2011
Bukankah semakin kita tau aturan agama kita semakin terbelenggu? Tidak memiliki kebebasan bertindak. Melakukan ini tidak boleh itu pun juga tidak boleh. Bukankah manusia hidup itu untuk bahagia? Kalau orang terbelenggu bagaimana bisa bahagia? Silakan direnungkan…”, kata seorang yang berpendidikan doktor. Baca entri selengkapnya »
Posted by: Empunya Gubuk on: September 16, 2011
Ada yang bertanya, “Mas, knapa baca buku Ainun & Habibie?”. Saya jawab, “Emm…Lagi belajar mencintai, katanya mencintai itu perlu ilmu dan seni he…ilmu qobla ‘amal”. Setelah saya membaca buku setebal 319 halaman ini banyak hal yang dapat dijadikan teladan walaupun tidak semuanya.
Belajar keberanian dan optimis. Saat itu teman-teman Habibie mengatakan, “Kamu (maksudnya Habibie) harus tahu diri, kamu harus tahu Keluarga Ainun itu siapa? Sainganmu anggota keluarga terkemuka di Indonesia, berpendidikan lebih tinggi dari kamu, kaya, ganteng, sementara kamu siapa? Sepeda motor saja kamu tak punya…”. Ini menarik, di saat saya melihat banyak orang pesimis dan takut cintanya tak berbalas tapi Habibie mengajarkan keberanian dan optimis. Akhirnya dengan keyakinan kuat Habibie terus melangkah dan cintanya sampai di pelaminan. Baca entri selengkapnya »
Posted by: Empunya Gubuk on: September 9, 2011
Cintanya terlalu dalam. Harapannya kandas. Kasihnya tak sampai. Patah hatinya. Nilai mata kuliah pun hancur lebur. Urusan yang lain ikut berantakan. Itulah potongan akhir perjalanan cinta seorang teman saat saya kuliah di IPB. Untung cintanya tidak berakhir tragis seperti cinta Laila dan Qois yang berakhir dengan “Majnun” kemudian mati. Mungkin seperti kata D’Masiv, “Cinta ini membunuhku”. Atau seperti kata William Shakespeare dalam Romeo dan Juliet, “Wahai kematian, datanglah cepat kemari, hisap dan dekap tubuhku yang penuh cinta ini”. Atau seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Kata Anis Matta “Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka”. Baca entri selengkapnya »
Komentar